sejarah-lacrosse-sebagai-olahraga-warisan-suku-asli-amerika

Sejarah Lacrosse sebagai Olahraga Warisan Suku Asli Amerika

Sejarah Lacrosse sebagai Olahraga Warisan Suku Asli Amerika. Lacrosse, olahraga yang kini populer di kampus-kampus Amerika dan Eropa, ternyata punya akar sangat dalam di tanah leluhur suku asli Amerika Utara. Dikenal sebagai “The Creator’s Game” atau “permainan Sang Pencipta”, lacrosse bukan sekadar kompetisi, tapi ritual spiritual, penyembuhan, dan pelatihan perang bagi ratusan suku, terutama Haudenosaunee (Iroquois), Ojibwe, Cherokee, dan Choctaw. Permainan ini sudah ada sejak abad ke-12, jauh sebelum Columbus menginjakkan kaki. Kini, ketika lacrosse resmi jadi olahraga Olimpiade 2028 di Los Angeles, dunia mulai mengakui bahwa ini bukan “hoki dengan jaring”, melainkan warisan hidup suku asli yang bertahan ribuan tahun. INFO CASINO

Asal-usul Spiritual dan Nama “Lacrosse”: Sejarah Lacrosse sebagai Olahraga Warisan Suku Asli Amerika

Suku asli tak punya kata tunggal untuk lacrosse; setiap bangsa punya sebutan sendiri. Haudenosaunee menyebutnya “Tewaaraton” (adik kecil perang), Ojibwe “Baggataway”, Cherokee “Da-nah-wah’uwsdi” (perang kecil). Nama “lacrosse” muncul tahun 1636 saat misionaris Jesuit Prancis, Jean de Brébeuf, saksikan permainan suku Huron. Ia bilang stiknya mirip “crosse” (tongkat uskup), dan nama itu melekat hingga sekarang. Bagi suku, permainan ini bukan hiburan biasa: sering digelar untuk sembuhkan orang sakit, rayakan panen, atau selesaikan konflik antarsuku tanpa pertumpahan darah besar. Lapangan bisa sepanjang beberapa kilometer, ratusan bahkan ribuan pemain ikut, dan pertandingan bisa berlangsung dari matahari terbit sampai terbenam—kadang tiga hari berturut-turut.

Aturan Tradisional vs Modern: Sejarah Lacrosse sebagai Olahraga Warisan Suku Asli Amerika

Versi tradisional jauh lebih “liar” daripada lacrosse modern. Tak ada garis batas, tak ada waktu, tak ada jumlah pemain tetap—bisa 100 vs 100 atau bahkan 1.000 vs 1.000. Stik terbuat dari kayu hickory dengan jaring kulit rusa, bola dari kulit atau kayu. Kontak fisik diperbolehkan, mirip rugby, jadi cedera biasa. Tujuan utama bukan menang, tapi hormati Sang Pencipta dan latih keberanian prajurit. Versi modern muncul tahun 1867 saat dokter Kanada William George Beers buat aturan tertulis: lapangan 110 yard, 10 pemain per tim, dan durasi 60 menit. Stik jadi pakai bahan sintetis, bola karet keras, dan kontak dibatasi. Perubahan ini bikin lacrosse lebih aman dan mudah dipahami, tapi juga hilangkan sebagian jiwa spiritualnya.

Peran Lacrosse dalam Budaya dan Penyembuhan

Bagi banyak suku, lacrosse adalah obat. Jika seseorang sakit parah, dukun atau tetua adakan pertandingan besar di depan rumah pasien—keyakinannya, semangat permainan akan usir roh jahat. Kemenangan tim tertentu dianggap pertanda pasien sembuh. Haudenosaunee sampai sekarang anggap lacrosse “medicine game”; mereka bawa stik kayu tradisional ke setiap turnamen internasional sebagai simbol identitas. Tahun 2018, tim nasional Haudenosaunee hampir tak boleh ikut Kejuaraan Dunia karena paspor mereka tak diakui—tapi akhirnya dapat dispensasi khusus. Kini, lacrosse jadi satu-satunya olahraga Olimpiade yang wajib akui kedaulatan Haudenosaunee: mereka boleh pakai bendera dan lagu kebangsaan sendiri.

Kesimpulan

Lacrosse bukan cuma olahraga tercepat di atas dua kaki, tapi warisan hidup suku asli Amerika Utara yang selamat dari kolonisasi, modernisasi, dan larangan budaya. Dari ritual penyembuhan di abad ke-12 sampai medali Olimpiade 2028, permainan ini tetap bawa pesan yang sama: kekuatan, keberanian, dan penghormatan kepada leluhur. Kini, ketika anak-anak kulit putih di pinggiran kota bermain lacrosse dengan stik karbon, banyak suku asli tersenyum—karena permainan Sang Pencipta akhirnya kembali ke panggung dunia, meski dengan wajah baru. Lacrosse bukan sekadar skor; ia cerita tentang kelangsungan budaya yang tak pernah benar-benar hilang.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *