pelari-maraton-dunia-pecahkan-rekor-di-cuaca-ekstrem

Pelari Maraton Dunia Pecahkan Rekor di Cuaca Ekstrem

Pelari Maraton Dunia Pecahkan Rekor di Cuaca Ekstrem. Pada 25 Oktober 2025, 55 pelari dari 18 negara negeri menorehkan sejarah di kedalaman bumi Swedia, tepatnya di Tambang Seng Garpenberg. Mereka menyelesaikan maraton penuh 42,2 kilometer di bawah permukaan laut hingga 1.120 meter, memecahkan rekor Guinness World Records untuk maraton terdalam sepanjang masa. Kondisi ekstrem—kegelapan total, kelembaban tinggi, suhu dingin yang menusuk, dan tekanan udara rendah—membuat tantangan ini jauh dari lintasan biasa. Michael Pappas, pelari asal Afrika Selatan, finis di posisi ketiga, sementara tim Glencore memimpin dengan semangat kolektif. Bukan hanya soal kecepatan, tapi ketangguhan mental yang bikin event ini viral. Di tengah perubahan iklim yang bikin cuaca lari makin tak terduga, prestasi ini jadi pengingat bahwa batas manusia bisa didorong lebih jauh. Mari kita telusuri bagaimana rekor ini lahir dari kegelapan. BERITA TERKINI

Latar Belakang Tantangan Bawah Tanah: Pelari Maraton Dunia Pecahkan Rekor di Cuaca Ekstrem

Event ini bukan lahir begitu saja, melainkan inisiatif Boliden, perusahaan pertambangan Swedia, untuk gabungkan olahraga dengan kesadaran lingkungan dan charity. Garpenberg, salah satu tambang seng paling modern di dunia, jadi lokasi sempurna: terowong panjang, stabil secara struktural, tapi ekstrem untuk manusia. Ide awalnya datang tahun lalu, saat para eksekutif pertambangan tantang diri sendiri untuk lari maraton di bawah tanah, sambil kumpulkan dana untuk BecomingX Foundation dan Wild at Heart—organisasi yang fokus pemberdayaan pemuda dan konservasi satwa liar.

Peserta dipilih ketat: atlet amatir hingga semi-pro dari berbagai latar, termasuk lima pelari Afrika Selatan seperti Pappas, yang biasa lari di pegunungan Table. Latihan pra-event meliputi simulasi kegelapan dengan penutup mata dan latihan napas di ruang bertekanan rendah, karena oksigen di kedalaman itu cuma 18-20 persen. Tujuan ganda: pecahkan rekor Guinness untuk maraton terdalam individu dan tim, plus angkat $600.000 untuk charity. Di era di mana maraton konvensional sering terganggu panas ekstrem—seperti Berlin 2025 yang gagal rekor karena 25 derajat Celsius—event ini tunjukkan running bisa adaptasi ke kondisi tak biasa, tanpa bergantung cuaca permukaan.

Kronologi Lomba dan Ujian Ekstrem: Pelari Maraton Dunia Pecahkan Rekor di Cuaca Ekstrem

Mulai pukul 08.00 pagi waktu setempat, peserta turun lift ke kedalaman 1.120 meter, disambut udara lembab 12 derajat Celsius dan kegelapan pekat yang cuma diterangi helm miner. Tak ada sorotan matahari, tak ada angin segar—hanya deru generator dan gema langkah kaki di terowong sempit. Rute 42,2 kilometer zig-zag melalui terowong pertambangan, dengan tanjakan curam dan permukaan berbatu yang bikin setiap kilometer terasa dua kali lipat.

Tantangan utama: kelelahan mental dari isolasi total, ditambah fisik dari tekanan rendah yang bikin napas pendek. Ledile Dikgale, pelari wanita asal Afrika Selatan, cerita bagaimana ia hampir menyerah di kilometer 25 karena halusinasi ringan dari kekurangan cahaya. Tapi semangat tim bantu—peserta lari bergelombang, saling dorong dengan teriakan. Michael Pappas, finis ketiga dengan waktu sekitar 4 jam 15 menit, bilang kunci suksesnya adalah ritme napas lambat dan visualisasi garis finis di permukaan. Semua peserta selesai dalam 6 jam, dengan tim Glencore catat jarak tim terdalam terbanyak. Rekor resmi Guinness dikonfirmasi segera setelahnya, lengkap dengan verifikasi independen. Di balik prestasi, ada pengorbanan: beberapa pelari alami dehidrasi ringan meski stasiun air setiap 5 kilometer, dan evakuasi medis untuk dua orang karena kram parah.

Dampak Global dan Inspirasi Atlet

Prestasi ini langsung meledak di media sosial, dengan video finis Pappas dan tim yang viral capai jutaan views. Lebih dari sekadar rekor, event ini angkat isu keselamatan pekerja tambang—sebagian dana charity dialokasikan untuk pelatihan evakuasi darurat di fasilitas serupa. Bagi komunitas running, ini bukti bahwa maraton bisa berevolusi: dari lintasan aspal ke arena tak terduga, dorong inovasi seperti lomba di gurun atau pegunungan salju.

Atlet dunia bereaksi positif. Eliud Kipchoge, legenda maraton Kenya, puji ketangguhan peserta via pesan, bilang ini “maraton jiwa, bukan cuma kaki.” Di Afrika Selatan, Pappas jadi pahlawan nasional, inspirasi pemuda di komunitas miskin untuk olahraga ekstrem sebagai jalan keluar. Secara ekonomi, event ini pacu pariwisata tambang Swedia, dengan tur virtual Garpenberg naik 40 persen. Tapi tak luput kritik: beberapa ahli bilang risiko kesehatan di kedalaman itu terlalu tinggi, meski protokol medis ketat diterapkan. Dampaknya jelas: running tak lagi terbatas cuaca, tapi tantang batas manusia secara holistik.

Kesimpulan

Pecahnya rekor maraton terdalam di Garpenberg jadi tonggak baru bagi olahraga lari, di mana 55 pelari taklukkan kegelapan dan kedalaman untuk ciptakan sejarah. Dari perjuangan Michael Pappas hingga semangat tim Glencore, event 25 Oktober 2025 ini ingatkan bahwa ketangguhan lahir dari adaptasi—bukan melawan alam, tapi bekerja sama dengannya. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sering ganggu maraton konvensional, prestasi ini buka pintu eksperimen baru, sambil kumpul dana charity yang nyata. Harapannya, rekor ini tak cuma catatan kaki, tapi inspirasi bagi generasi mendatang untuk dorong diri lebih dalam, secara harfiah dan kiasan. Saat Guinness resmi catat, dunia running punya cerita baru: dari permukaan ke inti bumi, semangat tak pernah pudar.

 

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *